Pendampingan Guru, Siswa, dan Orang Tua Siswa: Solusi Tingkatkan Prestasi Akademik Siswa di Tengah Pandemi

Wabah COVID-19 yang semakin marak belakangan ini tidak hanya berdampak pada bidang kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Namun, juga berdampak pada bidang pendidikan. Menurut berita yang dilansir dari Tempo.co, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kapusdatin Kemdikbud) menyatakan bahwa di Indonesia, terdapat 407 ribu sekolah, 3,4 juta guru, serta 56 juta siswa yang terdampak COVID-19. Untuk mengurangi penyebaran virus tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud No. 4 tahun 2020 yang menyatakan bahwa proses belajar dari rumah dilaksanakan secara daring. Walaupun begitu, dalam pelaksanaannya, masih terdapat banyak kendala yang dirasakan oleh berbagai pihak, baik itu guru, siswa, maupun orang tua siswa. Oleh karena itu, hal ini menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian khusus.

Hambatan bagi Guru

Hambatan yang dirasakan oleh guru ketika pembelajaran daring selain dari kendala teknis (kuota/sinyal) yang pertama adalah komunikasi guru-siswa yang tidak berjalan dengan baik. Terkadang, ada beberapa siswa yang mengerjakan tugas sekolahnya, namun belum memahami sepenuhnya instruksi dari tugas tersebut sehingga hasilnya pun kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran. 

Kendala kedua adalah waktu penyampaian materi secara daring begitu terbatas walaupun dapat dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi video conference, seperti Zoom ataupun Google Meet. Hal ini disebabkan karena kendala kuota atau sinyal merupakan kendala utama dalam penyelenggaraan pembelajaran daring. Oleh karena itu, guru harus meringkas materi pembelajaran supaya mudah dipahami oleh siswanya. 

Kendala selanjutnya ialah guru dituntut untuk memvariasikan penggunaan media pembelajaran daring agar murid tidak mudah bosan saat belajar. Padahal, tidak semua guru memiliki keterampilan dalam memvariasikan media pembelajaran. Selain itu, dalam memberikan tugas kepada murid, guru dituntut memvariasikan soal untuk meminimalisasi siswa menyalin pekerjaan temannya. Beberapa hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru pada pelaksanaan pembelajaran daring.

Hambatan bagi Siswa 

Lebih lanjut, hambatan pembelajaran daring juga dirasakan oleh siswa sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dilansir dari Kemdikbud.go.id, saat pembelajaran daring, keantusiasan murid dalam berpendapat cenderung berkurang, sehingga mengakibatkan pembelajaran menjadi membosankan. Selain itu, terlepas dari kendala kuota atau sinyal, kendala yang umumnya dialami adalah menurunnya semangat belajar siswa. 

Beberapa hal yang mendasari hal tersebut diantaranya adalah beban tugas sekolah yang begitu banyak, lingkungan belajar yang kurang kondusif, bahkan timbulnya kelelahan fisik akibat terlalu sering duduk atau menatap layar handphone-nya. Jika dibiarkan secara terusmenerus, hal ini akan menumbuhkan rasa jenuh sehingga menghilangkan motivasi belajar siswa. Dalam jangka panjang, hal ini tentu akan berimbas pada penurunan prestasi akademik siswa.

Hambatan bagi Orang Tua Siswa

Selain dirasakan oleh guru dan siswa, hambatan pembelajaran daring juga dirasakan oleh orang tua siswa. Hal ini disebabkan karena pembelajaran daring membuat siswa lebih lama menghabiskan waktu dengan orang tuanya dibandingkan dengan guru. Sehingga, peran pendampingan yang biasanya dilakukan oleh guru saat berada di sekolah menjadi cenderung berpusat pada orang tua siswa di rumah. 

Tidak jarang juga orang tua harus membimbing dan meluangkan waktu yang ekstra untuk anaknya, khususnya anak TK dan SD, dalam penggunaan teknologi yang dilakukan untuk membantu kelancaran proses pembelajaran. Walaupun begitu, tidak semua orang tua melek akan teknologi dan memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi anaknya karena ada urusan lain, seperti misalnya pekerjaan. Terkadang, hal ini menimbulkan keresahan tersendiri bagi para orang tua sehingga menimbulkan stres.

Wabah COVID-19 yang semakin marak belakangan ini tidak hanya berdampak pada bidang kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Namun, juga berdampak pada bidang pendidikan. Menurut berita yang dilansir dari Tempo.co, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kapusdatin Kemdikbud) menyatakan bahwa di Indonesia, terdapat 407 ribu sekolah, 3,4 juta guru, serta 56 juta siswa yang terdampak COVID-19. Untuk mengurangi penyebaran virus tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud No. 4 tahun 2020 yang menyatakan bahwa proses belajar dari rumah dilaksanakan secara daring. Walaupun begitu, dalam pelaksanaannya, masih terdapat banyak kendala yang dirasakan oleh berbagai pihak, baik itu guru, siswa, maupun orang tua siswa. Oleh karena itu, hal ini menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian khusus.

Hambatan bagi Guru

Hambatan yang dirasakan oleh guru ketika pembelajaran daring selain dari kendala teknis (kuota/sinyal) yang pertama adalah komunikasi guru-siswa yang tidak berjalan dengan baik. Terkadang, ada beberapa siswa yang mengerjakan tugas sekolahnya, namun belum memahami sepenuhnya instruksi dari tugas tersebut sehingga hasilnya pun kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran. 

Kendala kedua adalah waktu penyampaian materi secara daring begitu terbatas walaupun dapat dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi video conference, seperti Zoom ataupun Google Meet. Hal ini disebabkan karena kendala kuota atau sinyal merupakan kendala utama dalam penyelenggaraan pembelajaran daring. Oleh karena itu, guru harus meringkas materi pembelajaran supaya mudah dipahami oleh siswanya. 

Kendala selanjutnya ialah guru dituntut untuk memvariasikan penggunaan media pembelajaran daring agar murid tidak mudah bosan saat belajar. Padahal, tidak semua guru memiliki keterampilan dalam memvariasikan media pembelajaran. Selain itu, dalam memberikan tugas kepada murid, guru dituntut memvariasikan soal untuk meminimalisasi siswa menyalin pekerjaan temannya. Beberapa hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru pada pelaksanaan pembelajaran daring.

Hambatan bagi Siswa 

Lebih lanjut, hambatan pembelajaran daring juga dirasakan oleh siswa sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dilansir dari Kemdikbud.go.id, saat pembelajaran daring, keantusiasan murid dalam berpendapat cenderung berkurang, sehingga mengakibatkan pembelajaran menjadi membosankan. Selain itu, terlepas dari kendala kuota atau sinyal, kendala yang umumnya dialami adalah menurunnya semangat belajar siswa. 

Beberapa hal yang mendasari hal tersebut diantaranya adalah beban tugas sekolah yang begitu banyak, lingkungan belajar yang kurang kondusif, bahkan timbulnya kelelahan fisik akibat terlalu sering duduk atau menatap layar handphone-nya. Jika dibiarkan secara terusmenerus, hal ini akan menumbuhkan rasa jenuh sehingga menghilangkan motivasi belajar siswa. Dalam jangka panjang, hal ini tentu akan berimbas pada penurunan prestasi akademik siswa.

Hambatan bagi Orang Tua Siswa

Selain dirasakan oleh guru dan siswa, hambatan pembelajaran daring juga dirasakan oleh orang tua siswa. Hal ini disebabkan karena pembelajaran daring membuat siswa lebih lama menghabiskan waktu dengan orang tuanya dibandingkan dengan guru. Sehingga, peran pendampingan yang biasanya dilakukan oleh guru saat berada di sekolah menjadi cenderung berpusat pada orang tua siswa di rumah. 

Tidak jarang juga orang tua harus membimbing dan meluangkan waktu yang ekstra untuk anaknya, khususnya anak TK dan SD, dalam penggunaan teknologi yang dilakukan untuk membantu kelancaran proses pembelajaran. Walaupun begitu, tidak semua orang tua melek akan teknologi dan memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi anaknya karena ada urusan lain, seperti misalnya pekerjaan. Terkadang, hal ini menimbulkan keresahan tersendiri bagi para orang tua sehingga menimbulkan stres.

sumber : https://www.kompasiana.com/rubiatulkhumaeroh/60f6820b152510180605cb73/pendampingan-guru-siswa-dan-orang-tua-siswa-solusi-untuk-meningkatkan-prestasi-akademik-di-tengah-pandemi?page=2&page_images=1