MENGGAPAI MIMPI MEWUJUDKAN MERDEKA BELAJAR

Pendidikan saat ini dikenal dengan istilah pendidikan abad 21, pendidikan 4.0 atau pendidikan pada generasi z. Seiring dengan perkembangan zaman atau dikenal dengan istilah kodrat zaman ( menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara) dan kemajuan teknologi, maka pendidikan budi pekerti atau moral harus senantiasa menyertainya, agar murid tidak kehilangan arah. 

Selama ini saya memiliki pemahaman bahwa setiap anak yang lahir itu ibarat kertas putih yang masih kosong. Sehingga sekian lamanya kurang lebih hampir 15 tahun saya menjadi guru, anggapan saya tersebut telah membawa saya kepada sebuah keinginan bahwa sebagai pendidik (guru), saya dapat menuliskan apa saja sesuai dengan keinginan saya pada kertas putih tersebut. Hal inilah yang membuat saya mengejar target kurikulum, tanpa menghiraukan perasaan murid, apakah merasa nyaman atau bahagia? Atau justru murid saya tertekan dan tidak nyaman belajar bersama saya. 

 

Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa setiap anak yang terlahir itu sudah memiliki tulisan yang tersamar (kodrat alam). Tugas pendidik adalah menebalkan tulisan yang baik dan membiarkan tulisan yang mengandung arti jahat. Cara menebalkan tulisan yang baik itu dengan menggali seluruh potensi, menuntun dan memberi arah dengan menerapkan merdeka belajar dan menghamab pada anak.

 

Mendidik seharusnya bukan hanya sekedar mentransfer materi, tetapi juga memberi makna yang mendalam sehingga murid dapat tumbuh atau berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Kodrat alam anak di pedesaan akan berbeda dengan anak yang tinggal di perkotaan. Kodrat zaman saya belajar zaman dahulu juga sanagt berbeda dengan zaman sekarang. Dan zaman sekarang pendidik akan memperiapkan generasi yang akan memimpin pada masa 20 tahun yang akan datang.

 

Pada kesempatan aksi nyata yang telah saya lakukan, dan merupakan pembelajaran di masa pandemi covid 19 ini adalah diawali dengan membuat rencana aksi nyata yang memungkinkan untuk dapat terlaksana. Melaksanakan rencana aksi nyata baik pada google clasroom maupun group whatsApp. Dengan menetapkan tujuan dan indikator atau tolok ukur, agar hasil akhir dapat dievaluasi dan terukur. Keberhasilan ataupun kegagalan, hambatan atau rintangan atau kendala-kendala pada saat pelaksanaan akan menjadi pengalaman yang berharga agar lebih baik lagi pada masa selanjutnya. 

 

Tujuan aksi nyata adalah menggali seluruh potensi, bakat dan minat murid, dengan menerapkan merdeka belajar dan mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran, baik budi pekerti, maupun akademik serta melibatkan keluarganya sebagai agen utama pendidikan.

Tolok ukur atau indikatornya danya tanda tangan orang tua atau wali murid pada lembar tugas yang sudah diselesaikan untuk diserahkan kepada guru melalui Google Classroom.

Proses kegiatan pembelajaran daring melalui google classroom pada awalnya berjalan dengan cukup baik, namun seiring dengan berjalannya waktu yang sudah hampir mendekati satu tahun, maka pembelajaran daring menjadi kurang kondusif. Beberapa kendala yang saya hadapi adalah sebagai berikut:

1. Respon atau kehadiran dan tugas yang dikerjakan murid yang pada awalnya baik hampir 95% seiring berjalannya waktu menjadi menurun diduga karena rentang waktu yang cukup lama dan rindu dengan belajar tatap muka.

2. Kemandirian murid belajar di rumah tidak dapat terlaksana dengan baik

3. Murid merasa kesulitan memahami materi dan mengerjakan tugas serta melaporkan atau mengumpulkan di google classroom.

4. Peran orang tua dalam mendampingi murid belajar masih rendah

5. Murid terbebani dengan tugas yang diberikan

6. Tidak semua murid memiliki fasilitas untuk belajar daring

7. Masih terdapat beberapa siswa yang belum menjunjung budi pekerti luhur

 

Sebagai alternatif penyelesaian dari permasalahan di atas maka saya akan melakukan

langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengahadap kepada kepala sekolah untuk menyampaikan hal-hal yang menjadi kendala di atas.

2. Menduplikasi pemikiran Ki Hajar Dewantara kepada kepala sekolah dan rekan-rekan guru melalui tulisan yang saya buat.

3. Melibatkan orang tua dengan meminta murid mencantumkan tandatangan orang tua pada lembar pekerjaan yang dikumpulkan kepada guru.

4. Membuat group khusus dengan orang tua, agar dapat mengoptimalkan perannya.

5. Senantiasa tanpa rasa bosan mengingatkan tentang budi pekerti luhur.

6. Menyampaikan laporan hasil respon/kehadiran dan tugas yang dikerjakan murid di google classroom kepada orang tua

7. Berusaha mempraktikkan pembelajaran yang berorientasi pada murid dengan memulai dari diri sendiri, melakukan refleksi dan kemudian sharing meminta masukan dari murid dan rekan sejawat.

8. Mengajak rekan sejawat untuk bersama-sama melakukan pembelajaran yang berpusat pada murid, agar menjadi sebuah gerakkan bersama.

9. Menggali potensi budaya setempat yang dapat dijadikan sebagai media atau alat serta model pembelajaran di kelas

 

Dari aksi nyata yang saya deskripsikan di atas, masih terdapat pro dan kontra dari

sesama rekan sejawat. Sebgaian guru ada yang sudah merasa berada pada zona nyamannya masing-masing. Tetapi masih terdapat respon positif dari kepala sekolah dan guru-guru yang ingin melakukan perubahan.

 

Hasil refleksi dari aksi nyata yang dilakukan, bahwa perubahan menuju ke arah yang lebih baik dapat dilaksanakan dengan optimal jika terjalin kolaborasi antara semua personalia yang ada dalam lingkungan pendidikan. Dari kepala sekolah berserta wakil-wakilnya, mitra sejawat, guru BK, wali kelas, orang tua dan murid itu sendiri. 

 

Sebagai bahan perbaikan dan rekomendasi untuk perubahan aksi nyata pada masa berikutnya adalah sebaiknya kepada pimpinan sekolah agar menguatkan wacana pemikiran Ki Hajar Dewantara kepada pada setiap rapat koordinasi agar perbaikan pembelajaran yang perorientasi pada murid dapat dilakukan secara bersama-sama dan menjadi tanggung jawab bersama.